Feed on
Tulisan
Komentar

PERSIK KEDIRI VS PERSIBO BOJONEGORO
1 VS 0

85″ Danilo fernando

KK : Aris Indarto
Danilo Fernando
Agus S

Evaluasi umum :
Permainan persik kurang berkembang dan kurang greget! Alasan : 1. Instruksi arcan urie, untuk menyimpan tenaga pada laga final.
2. Para pemain kelelahan dengan jadwal yang sangat padat.
3 Para pemain persik menganggap remeh persibo, sehingga persik tidak mempunyai daya juang.

Info : Final akan dilaksanakan di Gelora 10 November, Tambaksari, Surabaya, tanggal 01 juni 2008, pada pukul 19.00 WIB, Disiarkan langsung oleh TV ONE.
Info lebih lanjut dan pemesanan tiket secar a online kunjungi ; www.arinet.wordpress.com

Baban Gandapurnama - detikBandung

Bandung - Sensasi Achmad Zaini Suparta terus berlanjut. Selain mengaku mempunyai dana triliunan rupiah, dia juga mengatakan dirinya keturunan Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran.

Hal diungkapkan Achmad Zaini sebelum memberikan pidato sambutan dalam acara Public Multy Project di Villa Istana Bunga, Lembang, Jawa Barat, Kamis (29/5/2008). Dalam acara yang dihadiri ratusan pengusaha itu, Achmad Zaini akan mengucurkan bantuan ratusan miliar rupiah.

“Ibu saya turunan ke-5 Prabu Siliwangi. Saya sendiri turunan ke-13,” ungkap Achmad Zaini yang juga mengaku berasal dari Banten.

Namun saat ditanya soal keluarga, termasuk istrinya, Achmad Zaini enggan berkomentar. Dia hanya mengatakan dirinya tidak mempunyai anak. Achmad Zaini juga mengaku memiliki rumah di Jakarta.

Sebelumnya Achmad Zaini mengaku mempunyai dana dalam bentuk kolateral emas yang berasal dari warisan orangtuanya. Dia mengetahui warisan ini setelah membuka map yang diwariskan orangtuanya setelah 1.000 hari kematian orangtuanya dan berisi dokumen tersebut. Dia mengklaim dana yang dimilikinya 20 kali lipat APBN Indonesia.

Memang cukup mengejutkan dan misterius. Namun, ratusan pengusaha dari seluruh Indonesia ternyata mempercayai pengakuan Achmad Zaini dan berburu untuk mendapat pinjaman darinya.

Demi Sponsor, Recovery Tim Jadi Korban Panitia
Surabaya - Dengan alasan target dari sponsor agar Liga Jatim 2008 harus kelar hingga 1 Juni mendatang, Panitia Penyelenggara akhirnya membuat keputusan yang justru merugikan tim kontestan semifinal dan final.

Pasalnya, untuk jadwal semifinal dan final, panitia hanya memberi jedah sehari tanpa ada masa recovery untuk pemain yakni 31 Mei dan 1 Juni mendatang.

“Permintaan sponsor memang Liga Jatim pada tanggal 1 Juni harus selesai. Memang sebelumnya pilihan kita semifinal digelar 30 Mei, tapi konsekuensinya setelah perempatfinal yakni tanggal 29 Mei, mereka harus main lagi pada tanggal 30. Tapi jadwal itu tidak kita pakai, kita lebih memilih tanggal 31 Mei dan 1 Juni,” kata Ketua PSSI Jatim, Haruna Soemitro kepada wartawan di Graha PSSI Jatim, jalan Pagesangan, Selasa (27/5/2008).

Begitu juga mengenai tempat digelarnya babak semifinal. Bila sebelumnya pihak panitia menetapkan pertandingan digelar secara bersamaan di Kediri dan Malang, kali ini akan diubah di Stadion Gelora Delta Sidoarjo dua pertandingan sekaligus.

Pada pertandingan pertama akan dimulai pada pukul 15.55 WIB dan pertandingan kedua pada pukul 19.10 WIB.

“Alokasi waktu juga yang menetapkan pihak sponsor,” kata Haruna.

Ditambahkan Haruna, Liga Jatim 2008 ini yang menurutnya lebih berkualitas dan semarak dibanding 6 tahun penyelenggaraan sebelumnya, rencananya juga akan disempurnakan dengan closing ceremony layaknya Liga.

“Kita sudah siapkan beberapa acara pada upacara penutupan nanti,” kata mantan anggota dewan ini.[kun]

kAKEk2 KelIling Dunia..

Surabaya - Usia 78 tahun bagi Soehardjo bukanlah suatu halangan untuk mewujudkan mimpinya berkeliling dunia dengan menggunakan sepeda motor.

Bahkan untuk memuluskan perjalanannya mengelilingi dunia, kakek 11 cucu ini rela menjual sawahnya yang ada di Solo. Dari hasil penjualan sebesar Rp 45 juta itu digunakan untuk uang saku, mengurus SIM internasional serta mengurus visa dan paspor.

“Alhamdulillah keinginan saya yang sudah lama saya pendam akhirnya tercapai,” kata Soehardjo kepada detiksurabaya.com di sela-sela persiapan keberangkatannya di Hotel Shangri-La Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya, Minggu (25/5/2008).

Soehardjo juga mengaku untuk mengantisipasi kerusakan pada motornya, kakek yang juga berprofesi sebagai montir ini membawa perlengkapan bengkelnya selain perlengkapan alat tidur.

Awal keinginan kakek ini untuk berkeliling dunia berawal ketika dirinya ingin berangkat umroh dengan menggunakan kendaraan bermotor. “Semuanya itu berawal 5 tahun lalu saat saya ingin umroh. tapi tiba-tiba timbul niatan untuk keliling dunia sekaligus umroh,” imbuhnya.

Namun keinginan Soehardjo sempat ditentang oleh kelima anaknya dan istrinya. Karena tekadnya sudah bulat, keluarganya pun akhirnya mengikhlaskan perjalanan panjang sang bapak.

“Awalnya berat mas, tapi karena keinginan baak yang kuat, mau bagaimana lagi akhirnya kita mengikhlaskan dan membantu persiapan keberangkatan bapak,” kata anak bungsunya Tri Wahono kepada detiksurabaya.com di sela-sela keberangkatannya

Rencananya, sebelum melakukan perjalanan panjangnya, Soehardjo akan terlebih dahulu singgah di kota asalnya Solo untuk nyekar ke makam kedua orang tuanya, dan bermalam di sana.

Keberangkatan kakek asal Jalan Sedayu 27 Surabaya dilepas oleh Kepala Teknisi Honda Jawa-Bali Purwanto, serta anak bungsunya Tri Wahono di Hotel Shangrila Surabaya dengan disaksikan oleh pemilik bengkel Honda se-Jawa Timur.

PEMBAGIAN GRUP DAN JADWAL DELAPAN BESAR

GRUP A (Stadion Brawijaya, Kediri)
1. PSM Makassar
2. Persik Kediri
3. Mitra Kukar Kaltim
4. PON Jatim

JADWAL
Sabtu 24 Mei ;
15.50 WIB: Persik v PSM
19.10 WIB: Mitra Kukar v PON

Senin (26/5):
15.50 WIB: Persik v Mitra Kukar
19.10 WIB: PSM v PON Jatim

Rabu (28/5)
15.50 WIB: PSM v Mitra
19.10 WIB: PON v Persik

GRUP B (Stadion Kanjuruhan, Malang)
1. Persibo Bojonegoro
2. Gresik United
3. Persema Malang
4. Arema Malang

JADWAL
Minggu (25/5)
15.50 WIB: Arema v GU
19.10 WIB: Persema v Persibo

Selasa (27/5)
15.50 WIB: Persibo v Arema
19.10 WIB: Persema v GU

Kamis (29/5)
15.50 WIB: GU v Persibo
19.10 WIB: Arema v Persema

Energi alternatif..

Malam ini 23 mei 2oo8, ratusan motor dan mobil rela antri berjam-jam demi mendapatkan BBM dengan harga lama.. Pemandangan seperti ini menjadi hal yang biasa bagi kita untuk kita saksikan? mengapa? Sejak masa pemerintahan soeharto dimana premium seharga Rp 700 dan sekarang menjadi Rp 6000, pemerintah menaikkan harga BBM dengan berbagai pertimbangan. Seharusnya kita sejak awal berpikir kedepan.. Bukankah BBM atau premium dan sejenisnya merupakan bahan bakar tak tergantikan? Suatu saat pasti habis.. Anak cucu kita akan menggunakan apa?

Mari kita berpikir? dan jangan lupa bertindak sudah saatnya kita memikirkan energi alternatif?

Kuliner Ekstrem

Kuliner Ekstrem

Jakarta - One man’s meat, is another man’s poison. Pemeo itu saya petik dari majalah Silverkris - inflight magazine-nya Singapore Airlines - edisi Mei 2008. Tulisan ini juga diilhami oleh artikel yang sama.

Sebagai bangsa Asia, kita mempunyai keramahtamahan yang unik, khususnya dalam hal berbagi atau sharing. Dalam budaya Barat, orang-orang saling menyapa dengan pertanyaan “apa kabar”. Tetapi, dalam budaya Tionghoa, misalnya, sapaannya adalah: “apa kamu sudah makan?” Artinya, kalau belum makan, pastilah akan ditawari makanan apa adanya.

Orang-orang Asia yang juga sering disebut sebagai orang Timur memang punya kebiasaan berbagi yang sangat kental. Saking sukanya mereka berbagi makanan, kadang-kadang mereka suka pula mendesakkan keinginan agar tamunya mencicipi keistimewaan atau kekhasan makanan mereka.

Pemeo di atas dapat digambarkan dengan mudah dalam kasus durian. Orang Asia pada umumnya sangat gemar makan durian. Mereka akan pergi ke mana saja dan membayar berapa saja untuk mendapatkan durian yang terbaik. Karena itu, mereka umumnya juga menganggap bahwa semua orang suka durian pula. Padahal, kebanyakan orang Barat justru tidak suka durian. Maaf kata, banyak orang Barat yang mendeskripsikan durian sebagai “it smells like hell, and tastes like s***t.”

Tetapi, tidak banyak orang Asia yang memahami bahwa orang Barat tidak suka durian. Mereka suka memaksa tamunya untuk mencicipi durian paling mahal dan paling enak yang sengaja dibelikan. Memang, ada juga orang Barat yang akhirnya menyukai durian dan mengatakan “it smells like hell, but tastes like heaven.”

Teman saya, Bill Howe, seorang mantan Peace Corps yang kemudian menjadi bankir, tidak setuju dengan julukan seperti itu. “To me, durian smells like heaven, and tastes like heaven, too,” katanya. Itu mungkin karena semasa bertugas sebagai sukarelawan Peace Corps di Malaysia, dia sudah beradaptasi secara hampir mengakar. Ketika beberapa tahun Bill bertugas di Singapura sebagai bankir, tiap pagi dia membeli nasi lemak murah seharga satu dolar di pinggir jalan, menentengnya ke kantor, dan menyantapnya di ruang kantornya yang mewah.

Bagi orang Barat, durian adalah bagian dari extreme cuisine. Kalau kita pernah melihat tayangan “Fear Factor” di televisi, kita dapat memahami betapa mata sapi yang direbus merupakan makanan yang sangat menjijikkan bagi mereka. Padahal, kalau makan soto kaki kambing di Jalan Blora, saya selalu minta mata kambing sebagai salah satu lauk yang dipesan.

Tetapi, dalam banyak hal, yang disebut ekstrem dalam kuliner biasanya dibatasi oleh lingkup budaya. Sesuatu yang ekstrem di dalam satu budaya, tidak ekstrem di budaya yang lain. Dulu orang Amerika juga menganggap makan ikan mentah menjijikkan. Tetapi, sekarang orang Amerika sangat doyan sushi dan sashimi.

Di saluran Discovery Travel and Living, ada sebuah program menarik bertajuk ‘Bizzare Foods’ yang dibawakan oleh Andrew Zimmern. Saya cukup menyukai acara ini karena Andrew tidak sekadar mendemonstrasikan keberaniannya mengganyang berbagai makanan yang ‘mengerikan’, tetapi ia lebih banyak menceritakan kultur yang bersangkut-paut dengan makanan itu. Andrew juga cukup prudent bila berhadapan dengan makanan dari jenis satwa yang dilindungi. Tetapi, di Asia ada beberapa program televisi yang menampilkan kuliner ekstrem secara menjijikkan.

Sebagai seorang presenter sebuah program kuliner, saya sendiri bersikap untuk menjauhi tayangan gagah-gagahan untuk mendemonstrasikan ‘keberanian’ makan. Bagi saya, cukuplah bila saya menampilkan makanan-makanan yang normal dan layak dimakan. Kalaupun share dan rating acara seperti itu bagus bagi televisi, biarlah orang lain saja yang melakukan pekerjaan dare devil seperti itu.

Di Belitung, misalnya, saya menolak menampilkan sajian daging monyet. Di Bali, saya juga menolak makan sate penyu. Saya bahkan sudah bertahun-tahun tidak lagi makan sirip ikan hiu. Tetapi, bila menyangkut urusan pusaka kuliner dan masih tetap berbatasan dengan kepantasan, dengan senang hati saya menampilkannya.

Belum lama ini saya sempat mencicipi kidu atau ulat enau di Kabanjahe, Sumatra Utara. Sebetulnya, lebih tepatnya ini adalah larva. Pohon enau yang tumbang sengaja dibiarkan beberapa minggu, sampai kemudian muncul larva berwarna putih gendut sebesar jempol laki-laki dewasa. Larva ini digoreng sebentar, dan kemudian dimasak dalam bumbu arsik berkuah santan kental. Memang mak nyus, sekalipun banyak juga yang ngeri melihatnya.

Sebetulnya, di Kabanjahe itu saya juga “ditantang” untuk makan pagit-pagit. Menurut deskripsinya, pagit-pagit dibuat dari isi perut sapi sebelum mengalami proses pemamahbiakan selanjutnya. “Ini pusaka kuliner juga. Supaya jangan ada yang bilang bahwa orang Karo makan tahi,” kata mamak yang “menantang” saya. Terus terang saya masih menyimpan kekhawatiran bahwa penayangannya di televisi justru akan menimbulkan kesalahpahaman.

Di Thailand, orang suka mengudap serangga yang digoreng. Tiap sore kita melihat penjaja berkeliling - kadang-kadang dengan sepeda motor - dengan meja terbuka berisi jangkrik goreng, belalang goreng, kumbang goreng, dan lain-lain. Di Filipina, laki-laki suka makan balut - telur ayam yang sudah menjadi embrio di dalamnya. Wong Palembang suka tempoyak - durian yang difermentasikan. Orang Jawa suka memakai tempe busuk sebagai bumbu makanan.

Tetapi, kuliner ekstrem tidak hanya merupakan delicacy bagi bangsa-bangsa Asia. Les escargots alias bekicot panggang di Prancis bukanlah sesuatu yang mudah diterima dalam budaya lain. Begitu juga boeuf tartare yang berupa daging sapi mentah dicincang, dicampur dengan telur mentah dan bumbu-bumbu. Lain padang lain belalangnya. Lain lubuk lain ikannya. Alangkah bijaknya ajaran orang-orang tua kita dulu. (dev/Odi)

PNS tukang meres

PNS adalah ujung tombak negara sbg abdi negara yang dibiayai oleh rakyat mereka berfungsi melayani masyarakat pada objek2 yg vital. Pada kenyataannya, hampir semua PNS bertindak tdk profesional dalam menjalankan tugasnya.

Dari tingkat bawah spt kelurahan sampai dengan tingkat atas seperti kantor walikota atau departemen atau instansi. Berikut adalah drama percaya atau tidak percaya dgn tokoh PNS dan masyarakat. Jika anda takut anggap saja tokoh pd drama ini hanyalah khayalan dan fiktif semata

Pembuat KTP: mas kata bp. nurma***** (kada/walikota) membaut ktp gratis? ko kskr minta uang administrasi?
Abdi Negara: memang saya ambil dokumen2 ini tdk pk ongkos?
kl gt bp. minta bkn ktp saja dg. bp. nurma***** sana biar gratis!

Sebagai profesi yg dibayar oleh rakyat bagaimana menurut detikers ? Mungkinkah PNS di Indonesia menjadi tujuan target kerja krn profesionalismenya seperti di S’pura?

Nurdin Bajingan!

Jakarta - Ada kontras yang tak terelakkan jika membandingkan Ketua Umum PSSI pertama, Ir. Soeratin Sosrosoegondo, dengan Ketua Umum PSSI ke-14, Nurdin Halid.

Ir. Soeratin, tokoh di balik berdirinya PSSI pada 19 April 1930, memilih kehilangan pekerjaan sebagai arsitek yang memberinya pendapatan berlimpah agar bisa secara total mengurus PSSI yang baru saja berdiri.

Ketika itu Soeratin bekerja di biro rancang bangunan bernama Boukundig Bureau Sitsen en Lausade dengan gaji sekira seribu gulden per bulan. Aktivitasnya mengurus PSSI membuat kinerjanya di kantor mengendur. Kantor yang memekerjakannya memberi dua opsi: tinggalkan PSSI atau tinggalkan pekerjaan.

Ini bukan pilihan sederhana. Meninggalkan pekerjaan bukan hanya membuat Soeratin kehilangan asupan finansial bagi diri dan keluarganya, tapi juga membuat Soeratin kehilangan pasokan dana yang sebagian di antaranya digunakan untuk menopang kegiatan-kegiatannya di PSSI karena PSSI sendiri ketika itu tak bisa diharapkan memberinya pendapatan. Soeratin bisa saja melepas jabatan sebagai Ketua Umum PSSI. Toh, ia masih bisa membantu PSSI dengan cara yang lain.

Tapi Soeratin memilih opsi keluar dari pekerjaannya. Baginya, membangun PSSI butuh konsentrasi besar. Masih banyak persoalan yang mesti dihadapi PSSI ketika itu, dari mulai isolasi yang dilakukan NIVB hingga membangun solidaritas bond-bond sepakbola bumiputera yang (kadang-kadang) masih saling bersaing satu sama lain. Teramat sayang jika ikhtiarnya yang susah payah dalam memelopori pendirian PSSI ditinggalkan di tengah jalan.

Fragmen bersejarah yang bisa dibaca sebagai momen eksistensial bagi manusia Soeratin di atas terasa begitu kontras dengan sikap “keras kepala” Nurdin Halid untuk terus bertahan di tampuk tertinggi kepemimpinan PSSI — sikap yang anehnya didukung dengan tidak kalah keras kepalanya oleh para pengurus PSSI dan Executive Comitte PSSI.

Kontras ini makin terasa menggelikan sewaktu membaca pernyataan Nurdin Halid ketika menjawab tuntutan agar dirinya mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI.

“Atau masalah yang saya hadapi tidak ada permintaan agar saya mundur dan saya dalam keadaan didzalimi. Untuk itu, demi harga diri saya serta demi harkat dan martabat PSSI siri’ napacce. Insya Allah dengan ridho Allah saya akan bertahan memimpin PSSI,” katanya (Kompas, 21 Februari 2008).

Jika Soeratin memilih untuk keluar dari pekerjaannya agar bisa total mengurus PSSI dengan risiko kehilangan asupan gulden yang melimpah pada zamannya, Nurdin Halid justru keukeuh untuk terus duduk di jabatannya kendati nyata-nyata ia sama sekali tak bisa memimpin roda organisasi PSSI. Alih-alih bisa memimpin PSSI dengan total, Nurdin justru lebih sering “merepotkan” PSSI karena memaksa para pengurus PSSI mesti bolak-balik ke penjara, baik untuk rapat koordinasi maupun sekadar memberi laporan.

Dalam tradisi Makasar, ’sirri’ bukan hal sepele. Ia merujuk pada kebanggan diri, harga diri, integritas diri sebagai manusia dan laki-laki. Jika sampai ada orang menyebut “sirri”, ia hampir dipastikan sedang berada dalam kemarahan besar, merasa integritas dirinya dikoyak moyak, harga dirinya diinjak-injak.

Persoalannya, tuntutan kepada Nurdin agar mundur itu bukan persoalan pribadi. Tuntutan yang makin kuat itu muncul sebagai persoalan organisasi, dalam hal ini PSSI, organisasi yang mengatur olahraga paling merakyat di tanah air, yang pendiriannya diusahakan dengan susah payah oleh para pendirinya.

Pernyataan Nurdin itu menggelikan karena Nurdin menyamakan harga diri dan martabat pribadi dengan harga diri dan martabat PSSI, seakan-akan jika Ketua Umum PSSI merasa pribadinya dilecehkan secara otomatis PSSI sebagai organisasi juga dilecehkan harga diri dan martabatnya.

Nurdin mungkin benar bahwa PSSI sudah kehilangan harga diri dan martabatnya, tapi bukan karena Ketua Umum-nya merasa dilecehkan, tapi karena PSSI memang sudah kehilangan integritas karena kegagalannya sendiri.

Prestasi apa yang dibanggakan PSSI selama di bawah kepemimpinan Nurdin Halid? Menang lawan Bahrain tapi kemudian kalah oleh Arab Saudi dan Korea Selatan pada Piala Asia 2007? Gagal lolos semifinal Sea Games 2007? Kalah memalukkan dari Suriah dengan agregat 11-1 dalam play-off Piala Dunia 2010?

Jika Nurdin Halid butuh contoh tentang laku mertahankan harga diri dan martabat PSSI, simak saja bagaimana Soeratin dengan sikap keras membela harga diri dan martabat PSSI dalam kasus pengiriman tim Hindia Belanda ke Piala Dunia 1938 di Prancis.

Ketika itu Hindia Belanda mengirimkan tim dari Nederlandsh Indische Voetbal Unie (NIVU, organ yang merupakan metamorfosis dari NIVB) ke Prancis. Kendati sembilan pemain dalam tim itu berasal dari kalangan bumiputera dan Tionghoa, Soeratin marah bukan main karena ia menganggap NIVU melanggar “Gentlement Agreemnt” yang ditandatangani PSSI (yang diwakili Soeratin) dengan NIVU (yang diwakili Materbreok) pada 5 Januari 1937 yang menyebutkan bahwa pengiriman tim mesti didahului oleh pertandingan antara NIVU dengan PSSI. Soeratin juga menginginkan agar bendera yang digunakan tim Hindia Belanda bukan bendera NIVU.

Pelanggaran kesepakatan itu dinilai Soeratin sebagai pelecehan atas martabat PSSI. Itulah sebabnya Soeratin, atas nama PSSI, membatalkan secara sepihak semua butir kesepakatan antara PSSI dengan NIVU pada Kongres PSSI 1938 di Solo.

Pada kongres itulah Soeratin membacakan pidato berjudul “Loekisan Djiwa PSSI: Mendidik Ra’jat dengan Perantaraan Voetbalsport”, pidato yang menjadi cetak biru visi PSSI pada masa kolonial, pidato yang sepertinya tak pernah dibaca oleh Nurdin Halid dan para pengurus PSSI sekarang.

Salah satu kalimat Soeratin yang paling termasyhur –seperti diceritakan Maladi– berbunyi: “Kalau di lapangan sepakbola kita bisa mengalahkan Belanda, kelak di lapangan politik pun kita bisa mengalahkan Belanda.”

Nasionalisme dan politik pada masa itu menjadi bagian inheren dari PSSI. Jangan heran jika, misalnya, panitia kejuaraan PSSI II pada 1932 yang digelar di lapangan Laan Travelli, Batavia, nekad mengundang Soekarno untuk melakukan tendangan bola kehormatan pada partai final kejuaraan yang memertemukan VIJ (Voetball Indonesia Jcatra) melawan PSIM Yogyakarta.

Tindakan itu berkadar subversif karena Soekarno baru saja keluar dari penjara Sukamiskin di Bandung akibat aktivitasnya sebagai pemimpin Partai Nasional Indonesia.

Zaman sudah berubah. Politik memang sebaiknya tidak dibawa-bawa dalam dunia sepakbola (FIFA melarang intervensi pemerintah terhadap asosiasi sepakbola, kendati lucunya pengurus PSSI sempat membawa-bawa UU Pemilu untuk membenarkan sikap Nurdin). Tetapi, cukup jelas juga, perkara harga diri dan martabat pribadi tak bisa dibawa-bawa ke dalam urusan sepakbola dan PSSI.

Nurdin dan segenap pengurus PSSI mesti berkaca kepada apa yang sudah dicontohkan Soeratin. Saya tidak tahu apakah LP Cipinang menyediakan cermin di setiap sel tahanan atau tidak.

==

*) Penulis adalah editor di Indonesia Boekoe Jakarta dan alumni Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta. Artikel ini merupakan opini pribadi dan tidak mencerminkan sikap/opini

Jakarta - 5.000 Pendemo menolak kenaikan harga BBM dan 10 tahun reformasi berlangsung ricuh. Penyebabnya mahasiswa membakar foto Presiden SBY dan Wapres JK. Polisi pun menyerompotkan gas air mata.

Meski disemprot gas air mata, massa tetap melakukan aksinya. Selain membakar foto SBY dan JK, pendemo juga membakar foto Menkokesra Aburizal Bakrie, Menko Perekonomian Boediono dan Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu dan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Aksi bakar-bakaran foto ini berlangsung di depan Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (12/5/2008).

Meski ricuh, aksi ini tidak membuat polisi menangkapi para pendemo. Ratusan polisi terus memantau aksi mereka dari kejauhan.

Hingga pukul 15.35 WIB, pendemo masih melakukan orasi dan sebagian duduk-duduk.

800 Mahasiswa IPB Demo

Meski sudah sore, aksi 5.000 massa di Istana semakin banyak. 800 Mahasiswa IPB datang untuk bergabung dengan teman-temannya yang lebih dulu datang ke Istana.

Mereka kini masih 50 meter di dekat Istana. Mereka sudah berbaris menuju pendemo di depan Istana.

Aksi mereka masih dijaga ketat polisi. Meski pendemo bertambah, namun jalan dari arah Istana ke Gambir lancar. Namun arah sebaliknya ditutup. Sedangkan bus TransJ arah Blok M lancar. Begitu juga arah sebaliknya.

Older Posts »